ILLEGAL LOGING DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

ILLEGAL LOGING

DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Oleh: Maria Sriwanti

Tuhan menciptakan bumi Indonesia tidak hanya kaya akan bahan galian/tambang, tetapi juga mengberikan anugerah berupa hutan yang luas. Berbagai jenis hutan bisa tumbuh dengan baik di Indonesia, di antaranya hutan rimba, hutan homogen/serba sama, hutan bakau, hutan lindung, dan sebaginya.

Keberadaan hutan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, baik manusia maupun makhluk hidup lain. Apalagi hutan yang memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai paru-paru dunia, tempat penyimpanan air (hidrologi regime reguler), dan untuk mempertahankan kesuburan serta habitat yang baik bagi satwa liar.

Akan tetapi hutan di Indonesia yang begitu luas lama-kelamaan semakin menipis, habis, atau rusak. Salah satu penyebabnya adalah adanya kegiatan/praktik illegal loging dan pembakaran hutan. Keserakahan manusia yang menginginkan kekayaan, secara tidak langsung telah membuat nasib anak cucu kita di masa datang menjadi tanda tanya. Masihkah mereka akan bersenandung di balik hijaunya hutan, ataukah merintih oleh panas global akibat krisis hutan?

Sebagian dari anggota masyarakat kita memang sibuk menimbun kekayaan untuk diri sendiri, seolah lupa dengan masa depan bangsa ini. Egoisme pribadi menyebabkan mereka hanya memikirkan diri sendiri. Penebangan liar, pencurian kayu, perambahan hutan dan sejenisnya seolah tidak pernah habis-habisnya.

ILLEGAL LOGING DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Kegiatan illegal loging bukan hanya dilakukan oleh masyarakat kecil yang tinggal di sekitar hutan, tetapi oleh para badut berdasi dan pejabat tinggi. Bahkan anggota TNI pun diduga terlibat kegiatan illegal loging. Menurut situs www.kompas.com, tanggal 12 Maret 2005 diduga ada empat anggota TNI terlibat dalam kegiatan illegal loging di Papua. Mereka disinyalir menerima aliran dana dari pengusaha asal Malaysia, Wong Tse Thung, yang saat ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) karena terbukti terlibat kasus illegal loging di Papua.

Dalam beberapa kasus yang terjadi, kegiatan illegal loging tidak hanya dilakukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali. Kegiatan illegal loging itu sendiri dilakukan dengan cara bersama-sama (rombongan). Di Kalibening (Banyumas) misalnya, satu rombongan berjumlah antara 20 sampai 50 orang (Harian Pikiran Rakyat, 24 Januari 2004). Waktu pencurian biasanya dilakukan pada petang sampai malam hari, dengan tujuan agar tidak diketahui oleh petugas patroli atau petugas-petugas hutan. Alat-alat yang digunakan adalah gergaji mesin, bendo, dan kampak.

Pada proses berikutnya kayu-kayu yang sudah ditebang diangkut dengan cara dipikul. Kemudian dimasukkan ke dalam truk pengangkut. Kayu ini kemudian dijual kepada pengusaha, pengelola, dan penggergaji.

Penyebab dan Upaya Penanggulangannya

Pada bagian pendahuluan sudah disinggung bahwa penyebab utama terjadinya kegiatan illegal loging adalah tidak adanya kesadaran dari sebagian masyarakat kita. Ketidaksadaran itu terutama muncul dari rasa egoisme, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan nasib masa depan bangsa. Penebangan tidak saja menyebabkan hutan gundul, tapi juga bisa mengganggu keseimbangan ekosistem. Bayangkan betapa hewan yang tinggal di dalamnya tidak lagi memiliki tempat tinggal, kekeringan yang amat menyengsarakan saat musim kemarau lantaran persediaan air yang selama ini di hutan tidak ada lagi, dan sebagainya.

Keserakahan sebagian masyarakat memang menimbulkan rasa khawatir akan nasib bumi kita. Masyarakat kecil yang tinggal di sekitar hutan juga tidak mampu berbuat lain. Kebutuhan dan didesak faktor ekonomi keluarga mengakibatkan mereka mau saja menerima bujukan menebang hutan dan menjualnya kepada para cukong kayu.

Bagaimana pun hutan punya manfaat yang sangat banyak pada kita. Semestinya, kalau ingin memanfaatkan kayu atau hasil hutan kita harus berhati-hati. Kalau sudah ditebangi seharusnya dilakukan lagi regenerasi dengan jalan menanami kembali hutan baru.

Kalau para pejabat atau cukong kayu dibiarkan menjarah hutan, dapat kita bayangkan betapa besar kerugian negara. Kayu-kayu seharusnya sebagai devisa negara malah habis dan rusak dimakan gergaji mesin.

Pemerintah bukannya tidak melakukan tindakan terhadap praktik illegal loging ini. Namun praktik ini agaknya sudah menjadi suatu rantai yang teramat panjang. Ketika di satu daerah dicoba untuk diberantas, di daerah lain pun sudah muncul praktik serupa. Akibatnya, pemerintah menjadi kewalahan ditambah lagi dengan ketidakpedulian oknum aparat dan sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Upaya penegakan hukum yang dilakukan pemerintah seharusnya dibuat lebih tegas tanpa pandang bulu. Kenyataan selama ini sungguh amat mengecewakan. Hukuman bagi tersangka pelaku praktik illegal loging berkisar 3 sampai 6 bulan penjara, tidak sebanding dengan kerusakan hutan yang diakibatkannya (Tempo Interaktif, 26 November 2004).

Demikian susahnya penegakan hukum terhadap pelaku illegal loging ini menyebabkan pemerintah mengupayakan cara lain. Upaya itu misalnya dengan penggunaan Undang-undang Perlindungan Hutan dan Undang-undang Lingkungan Hidup. Dengan menggunakan kedua jenis undang-undang ini, pelaku illegal loging setidaknya bisa dikenakan hukuman 5 tahun atau lebih. Di sisi lain, pemerintah terus mengupayakan undang-undang lainnya agar pelaku illegal loging bisa diberantas.

Peran sebagai Pelajar

Kita sebagai anak bangsa dan generasi penerus tentu juga dituntut untuk berperan serta dalam pelestarian hutan. Mempelajari betapa berbahayanya bumi ini apabila hutannya tidak dilestarikan bisa menimbulkan kesadaran kepada kita untuk tidak meniru ataupun mengikuti jejak para pencuri kayu.

Di samping itu, berbagai kegiatan di sekolah juga mampu memupuk rasa cinta kita kepada alam. Kegiatan pramuka, pecinta alam, dan berbagai upaya penanaman hutan lewat kegiatan perkemahan merupakan contoh betapa kita sebagai pelajar bisa berperan aktif. Selain itu upaya penyadaran kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kita juga bisa kita lakukan.

Selain itu karena status kita masih pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, maka peran kita dalam penanggulangan illegal loging adalah dengan belajar yang baik. Kita belajar bukan hanya di ruangan sekolah saja. Kita bisa belajar dimana saja kita berada serta kapan saja ada waktu luang. Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang ini, kelak akan bermanfaat dalam pembangunan bangsa dan negara. Pada hakikatnya, belajar merupakan menuntut ilmu setinggi-tingginya agar tercipta sumber daya manusia berkualitas.

Terciptanya suatu negara yang maju membutuhkan moralitas yang baik pada pribadi setiap pelajar. Hal ini berlangsung sejak dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Rasa persatuan dan kesatuan perlu ditanamkan sebagai anak bangsa yang masih mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Hal ini akan sangat membantu terhindar dari perselisihan antarpelajar. Dengan demikian, kita juga akan merasa aman dan nyaman di dalam menuntut ilmu.

PENUTUP

Kegiatan illegal loging untuk jangka panjang jelas sangat merugikan bangsa dan negara. Indonesia yang kaya dengan hutan alami bukan saja menjadi kebanggaan kita, tetapi juga sebagai salah satu paru-paru dunia. Melakukan pencurian kayu (illegal loging) akan menyebabkan hilangnya devisa negara dan menghancurkan masa depan bumi ini sendiri.

Oleh karena demikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh praktik illegal loging, maka diharapkan pemerintah tidak segan-segannya memberikan hukuman yang berat. Di samping itu upaya penyadaran terhadap masyarakat juga mutlak dilakukan.

Kabupaten Pekalongan khususnya, yang memiliki wilayah hutan luas sudah semestinya lebih diperhatikan oleh pemerintah. Bukan tidak mungkin, daerah ini menjadi salah satu incaran para penjarah kayu.

Untuk masa yang akan datang kita berharap, wilayah Indonesia umumnya dan kabupaten Pekalongan khususnya bisa terbebas dari praktik illegal loging ini, sehingga tercipta keseimbangan ekosistem dan nuansa kesejukan yang alami.

Semoga!

Daftar Pustaka

“80 Truk Kayu Pinus Dirazia,” Harian Pikiran Rakyat, 24 Januari 2004.

“Anggota TNI Diduga Terlibat Illegal Loging di Papua,” www.kompas.com (29 Maret 2005).

“Badut Berdasi Gunduli Hutan Sulut,” www.sulutlink.com (2 Juni 2004)

“Komnas Hutan Soroti Pencurian Kayu,” laporan Harian Suara Merdeka, 12 Februari 2005.

“Perhutani Tangkap Dua Truk Pembawa Kayu Ilegal,” Kompas, 26 April 2005.

Karangan di atas meraih Peringkat 1

Lomba Mengarang Tingkat SMP/MTs Kabupaten Pekalongan, 2006

Pengaruh Pengolesan Minyak Kelapa terhadap Pengawetan Telur Ayam

Oleh: Tim KIR SMPN 2 Talun

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daya simpan telur, khususnya telur ayam, amat pendek. Oleh karena itu perlu diperlakukan secara khusus jika ingin telur bisa disimpan lebih lama, apalagi bila menginginkan kondisi telur berada dalam keadaan segar. Salah satu upaya memperpanjang kesegaran telur adalah dengan mengawetkannya. Pengawetan telur segar sangat berguna dalam upaya mengatasi saat-saat harga telur tinggi. Untuk itu dicarilah upaya pengawetan telur yang mudah, sederhana, dan irit biaya.

Telur dapat bertahan lama pada suhu yang dingin, misalnya dengan menaruhnya di lemari es. Sedangkan di kecamatan Talun, khususnya di desa Sengare dan sekitarnya, penduduk yang memiliki lemari es sangat sedikit. Apalagi pada musim kemarau, telur sulit untuk bertahan lama. Akibatnya penduduk desa Sengare dan sekitarnya kesulitan mengawetkan telur agar tetap segar.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang di atas, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana upaya mengawetkan telur tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari es, melalui pemanfaatan bahan-bahan yang ada di desa Sengare dengan tidak mengeluarkan banyak biaya?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian karya ilmiah ini bertujuan:

  1. Mencari upaya lain dalam pengawetan telur, khususnya pada masyarakat yang belum memiliki alat pendingin seperti lemari es
  2. Mencoba melakukan kegiatan ilmiah sebagai solusi menjawab persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, khususnya di desa Sengare

Adapun manfaat penelitian ini amat berguna bagi masyarakat, karena bisa mengawetkan telur segar lebih lama, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

1.4 Sistematika Penulisan

Karya ilmiah ini terdiri dari 5 bab dan beberapa lembar lainnya. Bab I adalah Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, serta Sistematika Penulisan.

Pada bab II dijelaskan tentang Tinjauan Pustaka, yang diuraikan atas penjelasan Kualitas Telur dam Komposisi Telur.

Bab III berisi Metode Penelitian, sedangkan bab IV dijelaskan tentang Pengawetan Telur, yang diuraikan lagi atas Alat dan Bahan, Cara Kerja, dan Analisis.

Karya Ilmiah ini ditutup dengan bagian Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggungjawaban disertakan pula Daftar Pustaka.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kualitas Telur

Kualitas telur ditentukan oleh dua faktor, yakni kualitas luarnya berupa kulit cangkang dan isi telur. Kualitas luar ini bisa berupa bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit cangkang. Sedangkan yang berkaitan dengan isi telur meliputi kekentalan putih telur, warna dan posisi telur, serta ada tidaknya noda-noda pada putih dan kuning telur.

Dalam kondisi baru, kualitas telur tidak banyak mempengaruhi kualitas bagian dalamnya. Jika telur tersebut dikonsumsi langsung, kualitas telur bagian luar tidak menjadi masalah. Tetapi jika telur tersebut akan disimpan atau diawetkan, maka kualitas kulit telur yang rendah sangat berpengaruh terhadap awetnya telur.

Kualitas isi telur tanpa perlakuan khusus tidak dapat dipertahankan dalam waktu yang lama. Dalam suhu yang tidak sesuai, telur akan mengalami kerusakan setelah disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan kocaknya isi telur dan bila dipecah isinya tidak mengumpul lagi.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, misalnya Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf (1991), dan Antonius Riyanto (2001), dinyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman meningkat. Penguapan yang terjadi juga membuat bobot telur menyusut, dan putih telur menjadi lebih encer. Masuknya mikroba ke dalam telur melalui pori-pori kulit telur juga akan merusak isi telur.

Telur segar yang baik ditandai oleh bentuk kulitnya yang bagus, cukup tebal, tidak cacat (retak), warnanya bersih, rongga udara dalam telur kecil, posisi kuning telur di tengah-tengah, dan tidak terdapat bercak atau noda darah.

2.2 Komposisi Telur

Telur ayam pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram perbutirnya, yang terdiri dari 11% bagian kulit telur, 50% bagian putih telur, 31% bagian kuning telur.

Telur adalah sumber protein bermutu tinggi, kaya akan vitamin dan mineral. Protein telur termasuk sempurna, karena mengandung semua jenis asam amino esensial dalam jumlah cukup seimbang. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh manusia, karena tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari makanan yang dimakan.

Telur juga mengandung vitamin A, vitamin B Kompleks, dan vitamin D. Di samping itu telur juga mengandung sejumlah mineral seperti zat besi, fosfor, kalsium, sodium, dan magnesium dalam jumlah yang cukup. Semua unsur ini sangat penting guna meningkatkan pertumbuhan tubuh pada anak-anak dan remaja. Anak balita setiap hari membutuhkan kurang lebih 15 gram protein hewani. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi apabila anak balita mengkonsumsi 2 butir telur ayam perhari. Protein sangat dibutuhkan untuk membangun sel tubuh dan memperbaiki sel tubuh yang rusak. Itulah sebabnya telur sering diberikan kepada anak kecil untuk membantu pertumbuhan badan, dan kepada orang yang dalam proses penyembuhan guna mengganti sel tubuh yang rusak..

Komposisi zat gizi telur ayam dalam 100 gram

1. Kalori (kal) : 162,0

2. Protein (g) : 12,8

3. Lemak (g) :11,5

4. Karbohodrat (g) : 0,7

5. Kalsium (mg) : 54,0

6. Fosfor (mg) : 180,0

7. Besi (mg) : 2,7

8. Vitamin A : 900,0

9. Vitamin B : 0,1

10. Air (g) : 72

Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1979

Semua gambaran di atas amat penting dijelaskan, betapa telur memiliki banyak elemen penting yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan penggantian sel tubuh manusia.

III. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian hingga penyusunan karya ilmiah ini digunakan metode ilmiah, berupa kepustakaan dan observasi di, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data kepustakaan dan bahan/alat yang berkaitan dengan objek penelitian

2. Melakukan observasi (pengamatan) untuk mengetahui sampai sejauh mana hasil yang didapat dari uji coba yang dilakukan

3. Melakukan analisis dan kesimpulan dari hasil uji coba

Pada penelitian tersebut variabel bebas atau penyebabnya adalah pengolesan minyak kelapa, Untuk variabel terikat atau akibatnya adalah pengawetan telur ayam segar. Sedangkan variabel kontrolnya adalah telur dibiarkan (tanpa diolesi). Sebagai pembanding digunakan pengolesan telur dengan air kapur.

IV. PENGAWETAN TELUR

4.1 Alat dan Bahan

Pegawetan telur ayan diteliti dengan menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:

  1. Telur
  2. Kapur
  3. Kelapa
  4. Parutan kelapa
  5. Panci
  6. Kertas
  7. Spidol
  8. Saringan kelapa
  9. Wajan dan susuk
  10. Kompor
  11. Minyak tanah
  12. Korek api
  13. Kuas kecil
  14. Air
  15. Wadah
  16. Minyak curah

4.2 Cara Kerja

Untuk menilai pengawetan telur ayam dilakukanlah pengujian mulai tanggal 23 Maret sampai 4 Mei 2005, dengan melakukan perbandingan untuk menilai kesegaran telur-telur tersebut setelah beberapa hari kemudian. Perbandingan itu dengan cara mengelompokkan telur-telur tersebut ke dalam 4 kelompok, sebagai berikut:

  1. Kelompok telur I: Telur diolesi minyak curah

Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan. Selanjutnya telur diolesi minyak curah dengan memakai kuas kecil. Setelah itu telur disimpan di tempat kering. Selama disimpan telur diusahakan tidak dipegang atau digoyang-goyang.

  1. Kelompok II: Telur diolesi dengan air kapur

Kapur diberi air dan diaduk. Telur yang akan diawetkan dicuci terlebih dahulu. Setelah itu telur diolesi air kapur dengan menggunakan kuas kecil.

Pengawetan dengan air kapur ini sebagai pembanding model pengawetan lainnya, karena kita mengetahui bahwa cangkang telur terdiri dari zat kapur.

  1. Kelompok III: Telur diolesi minyak kelapa

Langkah pertama kelapa dikupas dan diparut. Selanjutnya parutannya diremas-remas sambil ditambah air secukupnya. Hasilnya adalah berupa santan. Santan itu kemudian direbus selama kurang lebih 3 jam. Setelah menjadi minyak, pisahkan minyak tersebut dari ampasnya.

Tahap berikutnya ambil telur dan dicuci. Kemudian telur diolesi minyak kelapa dengan menggunakan kuas kecil. Biasanya, 1 liter minyak kelapa bisa digunakan untu mengawetkan telur sekitar 70 kg.

  1. Kelompok IV: Telur dibiarkan (tanpa diolesi apa-apa)

Setelah telur dicuci, telur disimpan di tempat kering. Selama proses penyimpanan telur tidak boleh dipegang ataupun digoyang.

4.3 Analisis Hasil

Dari hasil pengamatan diperoleh hasil, bahwa telur ayam yang diolesi minyak kelapa dapat bertahan kesegarannya selama 2 bulan atau 8 minggu. Sedangkan telur yang diolesi minyak curah bagian kuning telur sudah tidak utuh, membusuk, dan berbau.

Untuk telur yang diolesi air kapur, kuning telurnya tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau. Demikian pula pada telur yang dibiarkan (tanpa diolesi) kesegarannya hanya bertahan 1 minggu, setelah itu kuning telurnya sudah tidak utuh, busuk, terdapat banyak belatung, dan berbau.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa cara pengawetan telur ayam segar selain dimasukkan lemari es, dapat pula dilakukan mengolesi telur dengan minyak kelapa. Pengolesan telur ayam dengan minyak kelapa mampu mempertahankan kesegaran telur selama 8 minggu atau 2 bulan.

Pengawetan telur dengan minyak kelapa tidak hanya mampu mempertahankan kesegaran telur, tapi juga mampu mempertahankan keutuhan nilai gizinya. Hal ini amat menguntungkan, karena selain prosesnya mudah juga irit dalam biaya.

5.2 Saran

1. Dalam membeli telur pilihlah telur yang baik, yaitu telur yang memiliki ukuran dan bentuk yang proporsional

2. Sebelum telur disimpan untuk mempertahankan kesegarannya telur dicuci bersih terlebih dahulu agar tidak terinfeksi bakteri

3. Sebaiknya telur yang diawetkan disimpan dalam rak

4. Masyarakat kiranya perlu mencoba melakukan upaya agar telur tetap dalam keadaan segar dengan cara diolesi minyak kelapa, karena bisa mempertahankan kesegaran telur dengan biaya murah.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan. 2004. Panduan Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) Siswa SMP/MTs Se-Kabupaten Pekalongan

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Reseach. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.

Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta: Kanisius.

Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: Andromedia Pustaka

Banjir Bandang, Illegal Loging, dan Upaya Penanggulangannya

Oleh: Maria Sriwanti

Siswa SMPN 2 Talun

(Pemenang I Lomba Mengarang SMP/MTs Kabupaten Pekalongan)

KATA PENGANTAR

Rasa syukur sepenuhnya penulis persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya, karangan yang berjudul: Banjir Bandang, Illegal Loging, dan Upaya Penanggulangannya ini bisa diselesaikan.

Karangan ini bisa diselesaikan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Pramudarno, S.Pd. selaku Kepala SMP Negeri 2 Talun atas dukungan dalam pembuatan karangan ini.

2. Bapak Zulmasri, S.S. atas segala bimbingan yang tidak bosan-bosannya yang diberikan pada saat penulisan.

3. Bapak-bapak dan Ibu Guru SMP Negeri 2 Talun dengan segala dorongannya.

4. Pengelola Laboratorium Komputer SMP Negeri 2 Talun atas izin pengetikannya.

5. Pihak Pantura.net yang membantu mencarikan data yang dibutuhkan

6. Kepada semua pihak yang ikut membantu selesainya karangan ini.

Penulis menyadari bahwa ibarat pepatah tak ada gading yang tidak retak, dan atas segala kekurangannya penulis mohon dimaafkan. Semoga karangan ini bermanfaat adanya.

PENDAHULUAN

Bumi pertiwi ini diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan. Kepulauan Indonesia yang berjejer dari Sabang sampai Merauke dibentengi hutan yang luas, sawah menghijau, sungai berliku dan memanjang, serta gunung yang menjulang. Semua karunia Tuhan yang harus disyukuri.

Semua yang Tuhan ciptakan di bumi ini sangat besar perannya bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah hutan. Hutan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, karena selain sebagai sumber daya alam (SDA), hutan juga mempunyai manfaat bagi manusia, antara lain sebagai paru-paru dunia, tempat penyimpanan air (hidrology regime reguler), dan sebagainya .

Akan tetapi di tengah-tengah zaman yang maju dengan pesat ini kita menyaksikan banyak bencana alam menimpa bumi tercinta ini. Bencana alam yang terjadi tidak lepas dari banyaknya hutan yang rusak/gundul. Terlepas dari musibah yang terjadi, kita menyaksikan hal yang sangat mengenaskan sebagai penyebab utamanya, yakni adanya kegiatan/praktik illegal loging.

Salah satu bencana alam yang terjadi di Indonesia khususnya, adalah musibah banjir banding. Banjir banding ini menimpa beberapa daerah di bumi pertiwi ini. Akankah kita hanya berpangku tangan saja melihat kejadian itu?

BANJIR BANDANG, ILLEGAL LOGING DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Banjir bandang bisa terjadi karena sifat manusia yang tidak mempedulikan keadaan lingkungan, membuang sampah seenaknya, dan yang paling sering terjadi adalah karena praktik penebangan hutan secara liar (illegal loging).

Di berbagai daerah di Indonesia, kegiatan illegal loging terjadi secara merajalela. Banyak hutan yang gundul dan tanah menjadi longsor karena kegiatan tersebut. Penebangan hutan secara liar dan semena-mena itu telah mengakibatkan munculnya bencana alam seperti yang kita saksikan saat ini.

Banjir bandang terjadi karena tidak ada atau menipisnya hutan yang biasanya mampu menyerap dan menampung air saat hujan. Hancurnya hutan oleh karena keserakahan sebagian manusia, telah mengakibatkan air hujan yang turun langsung menerjang apa yang dilaluinya. Oleh karenanya, pantaslah persoalan penebangan hutan secara liar (illegal loging) ini mendapat perhatian yang lebih serius. Apabila hal ini diabaikan, bisa dibayangkan anak cucu kita akan merana. Kenyataan itu sudah terlihat saat sekarang. Beberapa daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi telah merasakan dampaknya. Puluhan bahkan ratusan nyawa melayang sia-sia. Hujan yang turun dalam sekejap saja, telah berubah menjadi monster menakutkan. Banjir bandang datang melanda daerah yang dulunya dikenal sebagai tempat yang aman dan terbebas dari bencana.

Beberapa Kasus

Kegiatan illegal loging telah menimbulkan kerusakan hutan. Tidak hanya itu, praktik yang diharamkan itu pun telah mengakibatkan ikut musnahnya berbagai satwa dan paru-paru dunia. Malah dalam beberapa penelitian, sangatlah dikhawatirkan apabila perusakan hutan itu dilakukan terus-menerus. Panas global dengan semakin menipisnya lapisan ozon bisa menimbulkan permasalahan yang lebih berbahaya.

Banjir bandang sebagai dampak kegiatan illegal loging telah menimbulkan banyak jiwa melayang. Selain itu rumah dan berbagai fasilitas ikut hancur. Berbagai kasus banjir bandang yang terjadi di Indonesia telah menimbulkan kesengsaraan pada penduduk.

Di antara kasus banjir bandang yang terjadi di Indonesia akibat penggundulan hutan adalah banjir di desa Bukit Lawang, kecamatan Bahorok Langkat, Sumatera Utara pada November 2003. Banjir bandang yang terjadi mengakibatkan sedikitnya 90 orang tewas termasuk 6 turis yang sedang berwisata di kawasan tersebut. Dalam kejadian tersebut banyak rumah dan fasilitas pariwisata yang rusak (www.walhi.or.id, 4 November 2003).

Banjir bandang di desa Bahorok tidak terlepas dari adanya kegiatan penebangan hutan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mengingatkan perlunya menyelamatkan hutan dengan jalan menghentikan pemberian izin baru termasuk lelang HPH, penghentian segala aktivitas penebangan, dan persiapan rehabilitasi hutan yang rusak.

Contoh kasus banjir bandang lainnya adalah yang terjadi di desa Lawe Gerger dan Lawe Mengkudu, kecamatan Badar, kabupaten Aceh Tenggara pada 26 April 2005. Selain dipicu oleh curah hujan yang tinggi, banjir bandang itu juga disebabkan oleh kondisi hutan yang terdegradasi oleh aktivitas penebangan kayu oleh segelintir oknum (www.walhi.or.id, 29 April 2005). Beberapa warga ada yang terseret air dan puluhan lainnya harus mengungsi.

Sejarah juga mencatat, 1 Januari 2006 banjir bandang menerjang daerah Jember. Kejadian ini telah menewaskan 59 orang. Selain itu rumah dan berbagai fasilitas hancur, lahan pertanian rusak, dan hewan ternak banyak yang hanyut.

Masih di awal tahun 2006, banjir bandang disertai tanah longsor juga melanda desa Sijeruk, kabupaten Banjar Negara, Jawa Tengah. Dalam kejadian ini setidaknya 60 orang dinyatakan tewas (www.voanews.com, 6 Januari 2006).

Selain di desa Sijeruk, banjir bandang juga terjadi di Kampung Gunungrejo, kecamatan Banjarmangu, 15 kilometer utara kota Banjar Negara. Dari lima RT di kampung yang berpenduduk 655 jiwa itu, hanya satu RT yang selamat dari musibah (www.wordpress.com, 6 Jan 2006).

Banjir bandang yang belum lama terjadi di Sulawesi selatan (Selasa, 20 Juni 2006) dini hari, telah menyapu sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan (7 Kabupaten), ratusan penduduk dilaporkan tewas (lebih dari 300 orang), dan puluhan lainnya dinyatakan hilang. Dalam kejadian tersebut diduga kuat penyebabnya adalah praktik illegal loging yang terjadi di sekitar hutan-hutan di wilayah Sulawei Selatan. Menurut MS Kaban, kawasan hutan lindung di seluruh Sulawesi saat ini tinggal 27% dari seluruh kawasan yang ada. Padahal menurut UU, kawasan hutan lindung minimum setidaknya 30%.

Kenyataan ini sangat memprihatinkan karena secara nasional, kawasan hutan Indonesia sudah berada di bawah 30% dari seluruh wilayah yang ada. Peristiwa banjir bandang di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan merupakan akumulasi dari buruknya pengelolaan hutan tersebut yang sudah berlangsung sejak lama. (www.news.indosiar.com , 22 Juni 2006).

Boleh jadi, banjir di Sulawei Selatan termasuk banjir bandang terbesar tahun ini. Banyak terdengar anak-anak menangis karena kehilangan orang tuanya, tidak sedikit pula mereka yang menangis karena kehilangan sanak saudaranya, banyak juga mereka yang putus sekolah karena fasilitas-fasilitas sekolah ikut hancur. Haruskah Indonesia terus-menerus menangis karena bencana alam?

Upaya Penanggulangannya

Banyaknya kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan bencana banjir bandang, semestinya kita sadari apa hikmah di balik kejadian tersebut. Keserakahan sebagaian kita dengan berbuat semena-mena terhadap alam, telah mengakibatkan ratusan nyawa melayang dan kerugian material secara sia-sia.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari warga bangsa tercinta Indonesia ini, marilah kita biasakan mulai dari sekarang menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan yang harus kita ingat dan terapkan sejak dini adalah menghentikan kegiatan illegal loging dan perusak hutan lainnya. Bila melihat penanganan yang dilakukan selama ini oleh pemerintah hasilnya sungguh sangat mengecewakan. Upaya penegakan hukum yang dilakukan pemerintah seharusnya dibuat lebih tegas lagi tanpa pandang bulu. Kenyataannya selama ini, hukuman bagi tersangka pelaku kegiatan illegal loging hanya berkisar 3-6 bulan penjara, tidak sebanding dengan kerusakan yang diakibatkannya (www.tempointeraktif.com, 26 Nov 2004).

Namun di sisi lain, pemerintah tetap melakukan penegakan hukum terhadap perilaku kegiatan illegal loging. Upaya itu misalnya dengan penggunaan UU Perlindungan Hutan dan UU Lingkungan Hidup. Dengan demikian hukuman bagi pelaku illegal loging bisa mencapai 5 tahun atau lebih. Namun bila pelaku kegiatan illegal loging ini masih saja nekat, pemerintah akan terus mengupayakan UU lainnya sehingga pelaku illegal loging bisa diberantas dan jera dalam melakukan kegiatan ini. Dengan demikian, salah satu bencana alam, yakni banjir bandang yang disebabkan praktik illegal dapat diminimalisir.

Di kabupaten Pekalongan, memang masih jarang terjadi bencana alam berupa banjir bandang akibat penggundulan hutan atau illegal loging. Hal ini disebabkan daerah kawasan Kabupaten Pekalongan masih banyak terdapat hutan yang hijau. Namun daerah ini tidak terbebas dari praktik illegal loging. Abila kegiatan illegal loging ini dibiarkan, mungkin kabupaten Pekalongan akan lebih parah ditimpa oleh bencana alam. Oleh karena itu marilah kita jaga kelestarian hutan. Bukankah mencegah lebih baik dari pada merehabilitasi.

Memang, hutan sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi tidak selayaknya menebangi pohon habis-habisan. Kalaupun kita membutuhkan kayu, seharusnya kita juga berpikir bagaimana caranya agar kita tetap mendapatkan kayu tanpa menggunduli atau merusaknya. Contohnya dengan kegiatan reboisasi atau penanaman kembali hutan gundul. Dengan demikian terwujudlah cita-cita kita untuk melestarikan hutan.

Peran sebagai Pelajar

Kita sebagai anak bangsa dan generasi penerus, tentu juga dituntut untuk berperan serta dalam pelestarian hutan dan akibat yang ditimbulkannya. Mempelajari betapa berbahayanya bumi ini apabila hutannya tidak dilestarikan bisa menimbulkan kesadaran bagi kita untuk tidak meniru atau pun mengikuti jejak para pelaku kegiatan illegal loging.

Namun dengan status kita masih pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, maka peran kita dalam penanggulangan kegiatan illegal loging adalah belajar dengan baik. Kita belajar bukan hanya di ruang kelas saja, namun juga bisa belajar di luar kelas. Contoh-contoh kegiatan di sekolah yang berperan aktif dalam pelestarian hutan di antaranya kegiatan pramuka, pencinta alam, dan berbagai upaya penanaman hutan lewat kegiatan perkemahan.

Agar tercipta negara yang maju dan bebas dari kegiatan illegal loging peran pelajar begitu pentingnya dalam hal ini. Lebih baik lagi apabila dipupuk dan diterapkan sejak dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi kecintaan akan hutan dan gambaran dampak kerusakan hutan, seperti banjir bandang.

PENUTUP

Banjir bandang telah mengakibatkan korban nyawa, harta, dan fasilitas lainnya. Terjadinya banjir bandang sangat erat kaitannya dengan praktik illegal loging. Banjir bandang terjadi sebagai salah satu dampak praktik illegal loging

Kegiatan illegal loging bukan hanya meresahkan, tetapi juga merugikan negara. Bisa dibayangkan betapa besarnya kerugian negara akibat kegiatan illegal loging ini. Kayu dan hasil hutan lainnya sebagai sumber devisa negara, hilang begitu saja, dimakan oleh penjarah kayu yang tidak punya kebanggaan dan kesadaran sebagai warga negara.

Oleh karena besarnya kerugian negara akibat kegiatan illegal loging, maka diharapkan pemerintah tidak segan-segan memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku kegiatan illegal loging ini.

Kabupaten Pekalongan adalah daerah yang memiliki hutan yang begitu luas. Sudah semestinya pemerintah lebih memperhatikan wilayah hutannya dengan lebih teliti dan jeli. Bukannya tidak mungkin wilayah ini sudah menjadi salah satu daerah incaran para penjarah kayu .

Untuk masa yang akan datang kita berharap wilayah Indonesia umumnya dan kabupaten Pekalongan kususnya, bisa terbebas dari praktik illegal loging dan bencana yang diakibatkannya. Dengan demikian di bumi pertiwi bisa tercipta keseimbangan ekosistem dan nuansa kesejukan yang alami .

Semoga!

DAFTAR PUSTAKA

“Banjir Bandang Bahorok Akibat Rusaknya Hutan”, www.walhi.or.id (4 November 2003).

“Banjir Bandang di Aceh Tenggara: Tanggung Jawab Pemerintah dan Cukong Kayu Ilegal”, www.walhi.or.id (29 April 2005)

“Bencana Banjir Bandang dan Longsor Awal 2006”, www.wordpress.com (6 Januari 2006).

“Kerusakan Hutan Penyebab Banjir Bandang di Sinjai”, www.news.indosiar.com (22 Juni 2006).

“Pembalakan Liar Penyebab Banjir di Sulawesi Selatan”, www.tempo-interaktif.com (22 Juni 2006).

“SBY Mengunjungi Lokasi Terjadinya Banjir Bandang di Jawa Timur”, www.voanews.com (6 Januari 2006).

“Walhi: Banjir Bandang Aceh Tenggara Akibat Pembalakan Liar”, www.tempointeraktif.com (29 April 2005)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.