Catatan Kenangan Seorang Guru

Oleh: Dwi Agus Indarti, S.Pd.

Desember 2000, dengan penuh harap kutunggu pengumuman CPNS. Tiada kusangka diriku masuk dalam daftar CPNS yang tertera di banyak Koran dan lembar pengumuman. Rasa haru dan bahagia berkecamuk dalam dada. Ketika kuterima SK CPNS, ternyata aku ditempatkan di SMPN 2 Talun. Suatu daerah yang belum pernah kudengar sebelumnya. Sepulang dari Semarang segera kucari tempat kerja baruku dengan penuh semangat.

Dalam anganku terbayang sebuah gedung yang bagus, megah di tengah kota letaknya. Dengan penuh harap, aku tempuh perjalanan yang cukup melelahkan … belum sampai juga … rasa ragu mulai merayap dalam hatiku. Jangan-jangan sekolahku ada di suatu desa terpencil. Kususuri jalan beraspal yang mulai berlubang di sana-sini. Keraguanku semakin menjadi. Setiapku bertemu orang kutanyakan di mana SMPN 2 Talun. Aku selalu mendapat jawaban, ”masih jauh….”

Di akhir jalanan beraspal, kembali aku bertanya, Aku semakin putus asa tatkala orang itu menunjuk ke arah jalan berbatu dan becek. “Lewat jalan ini, naik terus sampai desa Sengare. Silakan nanti Tanya lagi,” begitu jawab orang yang kutanya sambil berlalu. Di sisa-sisa asaku, kususuri jalan licin berbatu, dan tepat waktu senja tiba, aku pun tiba di SMPN 2 Talun.

Kubuka pintu pagar sekolah. Derit pagar yang tak pernah tersentuh pelumas membuat beberap orang di sekitar sekolah menyambut kedatanganku. Senyum ramah mereka mengurangi sedikit penat yang kurasa. Sambil duduk-duduk, aku bertanya dalam angan, “Masihkah aku berada di Pulau Jawa? Kenapa masih ada desa yang jauh dari sentuhan pendidikan di wilayah ini?”

Kuperkenalkan diriku sebagai guru baru di SMP ini. Mereka tersenyum gembira, dengan penuh harap pendidikan akan segera terwujud di desa ini.
***

Kuawali pekerjaanku dengan doa, agar Tuhan selalu menguatkan semangat kerjaku. Beberapa hari berikutnya aku bersiap untuk mengajar. Betapa terkejutnya aku ketika kumasuki sebuah kantor  tanpa meja dan kursi. Kutemui siswa tanpa alas kaki/sepatu dalam kelas yang kosong tanpa kursi, tanpa meja, tanpa papan tulis sepotong pun di dinding. Tiada buku paket untuk siswa dan guru. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Kujanjikan pada semua muridku, jika gaji pertamaku keluar, aku akan membelikan mereka papan tulis dan alas/tikar untuk duduk. Kupenuhi janjiku, bersama dengan teman-teman guru kontrak, kami mengadakan KBM dengan sarana seadanya.

Bulan berikutnya droping meja dan kursi datang, rasa bahagia terbersit dalam hatiku. Muridku tidak lagi lesehan. Mereka bias benar-benar belajar selayaknya siswa SMP.

Kubulatkan tekadku untuk memajukan pendidikan di SMPN 2 Talun. Agar lebih maksimal, kutinggalkan rumahku di kota Pekalongan dan kutempati rumah dinas SMPN 2 Talun mulai bulan Juli 2002.

Tahun 2003, SMPN 2 Talun mendapat tambahan guru CPNS, disusul pada tahun-tahun berikutnya. Sarana dan prasarana sekolah mulai dilengkapi dengan adanya tambahan ruang kelas baru, ruang keterampilan, dan fasilitas lainnya.

Rasa bangga mulai merasuk dalam hati sanubariku. Kebersamaan para guru dan staf membuat lelah dan putus asa terkikis habis. Manakala pagi menjelang, kulihat tingkah canda tawa gembira murid-muridku, yang merupakan hiburan unik. Hal itu selalu berganti setiap hari, sehingga membuatku tak pernah merasa lelah untuk berjuang di SMPN 2 Talun tercinta ini. Beberapa prestasi diraih muridku yang berada di lereng pegunungan yang dingin membawa kesejukan tersendiri dalam hati.

Waktu terus berganti. Beberapa staf TU yang semula masih menjadi tenaga honorer telah diangkat menjadi PNS. Demikian juga guru wiyata bakti juga diangkat mejadi PNS. Hal ini kian melengkapi kebahagiaan di hatiku. Perjuangan yang tak sia-sia.

Hampir delapan tahun waktu erlalu, aku melihat SMPN 2 Talun sudah memiliki tenaga pengajar dan fasilitas yang lebih lengkap. Aku mulai berpikir dan bertanya dalam hati, “Apakah aku akan di sini selamanya? Bagaimana denga gubuk kecilku yang kutinggalkan delapan tahun lalu?”

Kubulatkan tekadku untuk meninggalkan SMPN 2 Talun dan memohon pindah tugas di sekolah yang lebih dekat dengan rumahku.

Kuucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, semua rekan guru dan staf yang selama ini telah berjung di SMPN 2 Talun, teriring permohonan maaf jika selama ini aku banyak berbuat kesalahan, dan mungkin membuat sakit hati, namun sebenarnya saya hanya ingin lakukan yang terbaik untuk SMPN 2 Talun tercinta.

Untuk semua muridku, tetaplah bersemangat untuk mewujudkan cita-cita. Kutitipkan masa depan SMPN 2 Taln ke tangan Kalian. Jagalah nama baik SMPN 2 Talun, peliharalah fasilitas yang ada untuk hari esok yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: