ILLEGAL LOGING DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

ILLEGAL LOGING

DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Oleh: Maria Sriwanti

Tuhan menciptakan bumi Indonesia tidak hanya kaya akan bahan galian/tambang, tetapi juga mengberikan anugerah berupa hutan yang luas. Berbagai jenis hutan bisa tumbuh dengan baik di Indonesia, di antaranya hutan rimba, hutan homogen/serba sama, hutan bakau, hutan lindung, dan sebaginya.

Keberadaan hutan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, baik manusia maupun makhluk hidup lain. Apalagi hutan yang memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai paru-paru dunia, tempat penyimpanan air (hidrologi regime reguler), dan untuk mempertahankan kesuburan serta habitat yang baik bagi satwa liar.

Akan tetapi hutan di Indonesia yang begitu luas lama-kelamaan semakin menipis, habis, atau rusak. Salah satu penyebabnya adalah adanya kegiatan/praktik illegal loging dan pembakaran hutan. Keserakahan manusia yang menginginkan kekayaan, secara tidak langsung telah membuat nasib anak cucu kita di masa datang menjadi tanda tanya. Masihkah mereka akan bersenandung di balik hijaunya hutan, ataukah merintih oleh panas global akibat krisis hutan?

Sebagian dari anggota masyarakat kita memang sibuk menimbun kekayaan untuk diri sendiri, seolah lupa dengan masa depan bangsa ini. Egoisme pribadi menyebabkan mereka hanya memikirkan diri sendiri. Penebangan liar, pencurian kayu, perambahan hutan dan sejenisnya seolah tidak pernah habis-habisnya.

ILLEGAL LOGING DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

Kegiatan illegal loging bukan hanya dilakukan oleh masyarakat kecil yang tinggal di sekitar hutan, tetapi oleh para badut berdasi dan pejabat tinggi. Bahkan anggota TNI pun diduga terlibat kegiatan illegal loging. Menurut situs www.kompas.com, tanggal 12 Maret 2005 diduga ada empat anggota TNI terlibat dalam kegiatan illegal loging di Papua. Mereka disinyalir menerima aliran dana dari pengusaha asal Malaysia, Wong Tse Thung, yang saat ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) karena terbukti terlibat kasus illegal loging di Papua.

Dalam beberapa kasus yang terjadi, kegiatan illegal loging tidak hanya dilakukan sekali dua kali, melainkan berkali-kali. Kegiatan illegal loging itu sendiri dilakukan dengan cara bersama-sama (rombongan). Di Kalibening (Banyumas) misalnya, satu rombongan berjumlah antara 20 sampai 50 orang (Harian Pikiran Rakyat, 24 Januari 2004). Waktu pencurian biasanya dilakukan pada petang sampai malam hari, dengan tujuan agar tidak diketahui oleh petugas patroli atau petugas-petugas hutan. Alat-alat yang digunakan adalah gergaji mesin, bendo, dan kampak.

Pada proses berikutnya kayu-kayu yang sudah ditebang diangkut dengan cara dipikul. Kemudian dimasukkan ke dalam truk pengangkut. Kayu ini kemudian dijual kepada pengusaha, pengelola, dan penggergaji.

Penyebab dan Upaya Penanggulangannya

Pada bagian pendahuluan sudah disinggung bahwa penyebab utama terjadinya kegiatan illegal loging adalah tidak adanya kesadaran dari sebagian masyarakat kita. Ketidaksadaran itu terutama muncul dari rasa egoisme, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan nasib masa depan bangsa. Penebangan tidak saja menyebabkan hutan gundul, tapi juga bisa mengganggu keseimbangan ekosistem. Bayangkan betapa hewan yang tinggal di dalamnya tidak lagi memiliki tempat tinggal, kekeringan yang amat menyengsarakan saat musim kemarau lantaran persediaan air yang selama ini di hutan tidak ada lagi, dan sebagainya.

Keserakahan sebagian masyarakat memang menimbulkan rasa khawatir akan nasib bumi kita. Masyarakat kecil yang tinggal di sekitar hutan juga tidak mampu berbuat lain. Kebutuhan dan didesak faktor ekonomi keluarga mengakibatkan mereka mau saja menerima bujukan menebang hutan dan menjualnya kepada para cukong kayu.

Bagaimana pun hutan punya manfaat yang sangat banyak pada kita. Semestinya, kalau ingin memanfaatkan kayu atau hasil hutan kita harus berhati-hati. Kalau sudah ditebangi seharusnya dilakukan lagi regenerasi dengan jalan menanami kembali hutan baru.

Kalau para pejabat atau cukong kayu dibiarkan menjarah hutan, dapat kita bayangkan betapa besar kerugian negara. Kayu-kayu seharusnya sebagai devisa negara malah habis dan rusak dimakan gergaji mesin.

Pemerintah bukannya tidak melakukan tindakan terhadap praktik illegal loging ini. Namun praktik ini agaknya sudah menjadi suatu rantai yang teramat panjang. Ketika di satu daerah dicoba untuk diberantas, di daerah lain pun sudah muncul praktik serupa. Akibatnya, pemerintah menjadi kewalahan ditambah lagi dengan ketidakpedulian oknum aparat dan sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Upaya penegakan hukum yang dilakukan pemerintah seharusnya dibuat lebih tegas tanpa pandang bulu. Kenyataan selama ini sungguh amat mengecewakan. Hukuman bagi tersangka pelaku praktik illegal loging berkisar 3 sampai 6 bulan penjara, tidak sebanding dengan kerusakan hutan yang diakibatkannya (Tempo Interaktif, 26 November 2004).

Demikian susahnya penegakan hukum terhadap pelaku illegal loging ini menyebabkan pemerintah mengupayakan cara lain. Upaya itu misalnya dengan penggunaan Undang-undang Perlindungan Hutan dan Undang-undang Lingkungan Hidup. Dengan menggunakan kedua jenis undang-undang ini, pelaku illegal loging setidaknya bisa dikenakan hukuman 5 tahun atau lebih. Di sisi lain, pemerintah terus mengupayakan undang-undang lainnya agar pelaku illegal loging bisa diberantas.

Peran sebagai Pelajar

Kita sebagai anak bangsa dan generasi penerus tentu juga dituntut untuk berperan serta dalam pelestarian hutan. Mempelajari betapa berbahayanya bumi ini apabila hutannya tidak dilestarikan bisa menimbulkan kesadaran kepada kita untuk tidak meniru ataupun mengikuti jejak para pencuri kayu.

Di samping itu, berbagai kegiatan di sekolah juga mampu memupuk rasa cinta kita kepada alam. Kegiatan pramuka, pecinta alam, dan berbagai upaya penanaman hutan lewat kegiatan perkemahan merupakan contoh betapa kita sebagai pelajar bisa berperan aktif. Selain itu upaya penyadaran kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kita juga bisa kita lakukan.

Selain itu karena status kita masih pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, maka peran kita dalam penanggulangan illegal loging adalah dengan belajar yang baik. Kita belajar bukan hanya di ruangan sekolah saja. Kita bisa belajar dimana saja kita berada serta kapan saja ada waktu luang. Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang ini, kelak akan bermanfaat dalam pembangunan bangsa dan negara. Pada hakikatnya, belajar merupakan menuntut ilmu setinggi-tingginya agar tercipta sumber daya manusia berkualitas.

Terciptanya suatu negara yang maju membutuhkan moralitas yang baik pada pribadi setiap pelajar. Hal ini berlangsung sejak dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Rasa persatuan dan kesatuan perlu ditanamkan sebagai anak bangsa yang masih mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Hal ini akan sangat membantu terhindar dari perselisihan antarpelajar. Dengan demikian, kita juga akan merasa aman dan nyaman di dalam menuntut ilmu.

PENUTUP

Kegiatan illegal loging untuk jangka panjang jelas sangat merugikan bangsa dan negara. Indonesia yang kaya dengan hutan alami bukan saja menjadi kebanggaan kita, tetapi juga sebagai salah satu paru-paru dunia. Melakukan pencurian kayu (illegal loging) akan menyebabkan hilangnya devisa negara dan menghancurkan masa depan bumi ini sendiri.

Oleh karena demikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh praktik illegal loging, maka diharapkan pemerintah tidak segan-segannya memberikan hukuman yang berat. Di samping itu upaya penyadaran terhadap masyarakat juga mutlak dilakukan.

Kabupaten Pekalongan khususnya, yang memiliki wilayah hutan luas sudah semestinya lebih diperhatikan oleh pemerintah. Bukan tidak mungkin, daerah ini menjadi salah satu incaran para penjarah kayu.

Untuk masa yang akan datang kita berharap, wilayah Indonesia umumnya dan kabupaten Pekalongan khususnya bisa terbebas dari praktik illegal loging ini, sehingga tercipta keseimbangan ekosistem dan nuansa kesejukan yang alami.

Semoga!

Daftar Pustaka

“80 Truk Kayu Pinus Dirazia,” Harian Pikiran Rakyat, 24 Januari 2004.

“Anggota TNI Diduga Terlibat Illegal Loging di Papua,” www.kompas.com (29 Maret 2005).

“Badut Berdasi Gunduli Hutan Sulut,” www.sulutlink.com (2 Juni 2004)

“Komnas Hutan Soroti Pencurian Kayu,” laporan Harian Suara Merdeka, 12 Februari 2005.

“Perhutani Tangkap Dua Truk Pembawa Kayu Ilegal,” Kompas, 26 April 2005.

Karangan di atas meraih Peringkat 1

Lomba Mengarang Tingkat SMP/MTs Kabupaten Pekalongan, 2006

3 Tanggapan

  1. pada dasar nya manusia juga ada rasa untuk menjaga dan melestarikan bumi kita ini…namun akibat dari pertumbuhan jaman yang mengakibatkan kan naik nya mata uang di indonesia dan di kota” lain nya memaksa orang” dari golongan kebawah mempunyai rasa ingin melakukan hal” yang sebenar nya tidak boleh di lakukan …bahkan hukum pun harus mereka langgar untuk mendapat kan apa yang mereka iginkan

  2. thanks…

  3. tulisan ini sangat bermanfaat untuk anak didik kami di SMPN 2 WAJAK SA TU ATAP kABUPATEN MALANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: