Jazaul Khoeroh (Bagian ke-2)

Oleh Zulmasri

jazaulYang pasti ini bukan cerita fiksi yang memiliki bagian-bagian. Ini adalah kelanjutan kisah dari seorang anak didik saya di sebuah SMP daerah pebukitan, tepatnya di SMP Negeri 2 Talun.

Bagi yang belum mengenal lebih jauh tentang anak didik yang saya bicarakan ini, ada baiknya diklik di sini. Bagi yang masih ingat tentang Jazaul, kita lanjutkan saja ceritanya.

Setidaknya lanjutan ini juga terinspirasi dari tulisan rekan saya, Bahtiyar Zulal. Apalagi di akhir pertemuan saya dengan Jazaul, kesan saya terhadap anak didik saya ini begitu kuat.

Saya terakhir bertemu dengannya 20 Juni 2009, yakni saat pengumuman kelulusan. Bila pada cerita sebelumnya saya bercerita tentang ketidaklulusannya saat try out, maka lain halnya pada saat pengumuman kelulusan. Jazaul benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai anak yang cerdas. Ia memperoleh nilai tertinggi dan lulusan terbaik. Nilai mata pelajarannya mendekati sempurna.

Sebagai lulusan terbaik, sudah tentu pengumuman itu disambut Jazaul dengan suka cita. Namun pada saat bertemu, justru kesan suka cita itu seolah mengabur, berganti duka di wajahnya. Saat bersalaman terakhir kali dan menanyakan akan melanjutkan ke sekolah mana,duka itu kian mengambang jelas di matanya.

Pada saat itu ia memang tak menjawab. Dari teman-temannya, saya mengetahui bila ia tidak melanjutkan sekolahnya. Kemiskinan adalah faktor utama yang menjadikan ia tak mampu melanjutkan cita-cita yang mungkin pernah dipunyainya.

Saya jadi teringat dengan para caleg dan capres saat kampanye. Betapa dunia pendidikan ikut disorot sebagai salah satu program yang mendapat prioritas. Namun bila mengingat apa yang terjadi pada diri Jazaul, saya jadi bimbang, ragu, dan skeptis terhadap kampanye tersebut.

DSC00415

Selain masih banyaknya warga masyarakat yang miskin, persoalan transportasi juga menjadi kendala utama bagi anak-anak lulusan SMP 2 Talun yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sekolah lanjutan Atas paling dekat dengan SMP Negeri 2 Talun adalah SMAN Talun yang jaraknya tak kurang dari 10 km. Semenjak saya mengajar di SMP 2 Talun tahun 2005 lalu, hingga kini belum ada transportasi untuk umum ke SMAN Talun yang terletak di ibu kota kecamatan. Jalanan memang sudah diaspal (walau banyak lobangnya), penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam. Saya tidak tahu pasti, apakah medan yang lumayan berat itu yang menjadi tiadanya alat transportasi. Yang pasti, bila ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, lulusan SMP 2 Talun harus memiliki minimal sepeda motor, atau nge-kost. Dua pilihan yang tentu saja butuh biaya. Belum lagi untuk biaya sekolah tentunya.

Itulah, dengan kondisi keluarga kurang mampu, Jazaul tidak mampu melanjutkan sekolahnya.

Mungkin cerita tentang Jazaul, anak yang memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik dibanding teman-temannya tapi dengan kondisi kurang beruntung, tidaklah sekali dua kali kita dengar. Hampir saban tahun kisah-kisah seperti ini saya temukan saat pengumuman kelulusan disampaikan. Sebuah keinginan, harapan, ataupun cita-cita dari seorang anak diputus begitu saja, lantaran terkendala biaya. Sungguh mengenaskan di Republik yang telah merdeka hampir 64 tahun lalu. Sungguh sebuah ironi nyata, di saat para pemimpin kita dengan gampangnya meluahkan kata-kata.

Mata Wajah Anakku

Oleh: Bahtiyar Zulal

Ketika aku memutuskan menjadi seorang guru, ada perasaan yang terasa begitu mengganjal, bukan lantaran aku tidak ingin menjadi seorang “guru” tetapi aku memandang profesi seorang guru itu adalah sebuah pilihan pekerjaan yang luar biasa beratnya, rasa tanggung jawab yang begitu besar dan harus menjadi sosok yang begitu sempurna baik di depan anak didik maupun di tengah masyarakat.

Dikeluargaku sebagian besar profesinya adalah seorang guru,Bapakku,pamanku, Kakekku baik dari Bapak maupun dari Ibu. dari mereka semua aku sedikit tahu dan sedikit mengerti tentang bagaimana suka dukanya menjadi seorang guru. tentu saja guru pada saat aku masih kecil dengan guru sekarang sangat jauh berbeda. dari penampilannya,gaya hidupnya sampai ikatan emosional antara guru-anak didik.

Di tahun-tahun pertama aku menjadi seorang guru perasan terberat yang aku rasakan adalah memastikan terkendalinya emosi, bagaimana tidak, karena sebelumnya selama ini aku selalu hidup di jalanan dan selalu pindah-pindah dari tempat satu ke tempat tinggal yang lain, dan dengan begitu tiba-tiba semuanya harus terhenti dan dibatasi dengan begitu banyaknya peraturan baik yang tertulis maupun peraturan dalam bentuk tata nilai di masyarakat. bahkan aku pernah mengalami suatu kondisi yang begitu kritis karena harus memilih antara terus atau berhenti. hanya karena aku merasa telah menentukan pilihan saja yang membuat aku malu jika disebut pengecut.

Tapi bagaimana aku bisa sekolah di keguruan ?, itu juga sebuah episode kehidupanku lagi, semua berawal dari ketidak pahamanku tentang sekolah, itupun baru aku sadari saat aku hampir selesai sekolah. semua berawal ketika aku masih sekolah di SMA (aku juga pernah sekolah di STM jurusan Mesin di kota Kertosona, Nganjuk) di Sekolah suwasta pada saat itu semua orang yang dipandang mampu mengajar bisa menjadi guru, tidak harus dari sarjana keguruan, Kepala sekolahku seorang Insinyur lulusan universitas Brawijaya Malang (Ir.Nanang Harsono), guru Kimiaku seorang Insinyur lulusan Institut Teknologi sepuluh Nopember/ITS Surabaya (Ir.Putu Indra Setiawan) begitu juga dengan guru Bahasa Inggrisku Beliau Orang yang lama tinggal di Malborne Australia (Saiful). suatu ketika guru Bahasa Inggrisku itu memberi tawaran kepadaku dan seorang temanku, jika dia bisa merekomendasikan aku dan temanku untuk bekerja di tempat kerjanya yang dulu asal bisa menguasahi Bahasa Inggris dengan baik, tentu saja kami berdua tertarik dengan tawaran itu, maka begitu kami lulus SMA pertama yang kami lakukan adalah mencari lembaga pendidikan Bahasa Inggris yang paling murah dan cepat, temanku pergi ke kota Pare, Kediri dan aku pergi ke Semarang karena pertimbangan biaya, aku mempunyai keluarga di Semarang, dan aku ikut test Sipenmaru mengambil berkas IPC karena SMA ku jurusan A2 (Imu-ilmu Biologi). pilihan pertama tentu saja Bahasa Inggris D2,pilihan kedua juga Bahasa Inggris dan pilihan ketiga tentu saja harus dari jurusan IPA maka aku isi saja dengan Fisika D2, singkat cerita: begitu pengumuman apa yang terjadi ternyata aku di terima di jurusan Fisika D2, tentu saja aku bingung apa yang harus aku lakukan ? (waktu itu aku belum mengerti bahwa IKIP itu sekolahnya calon guru, aneh kan ?) dan dengan pertimbangan sana-sini akhirnya aku tetap menjalani sekolah itu meskipun dengan perasaan agak berat, akhirnya rampung juga (sedikit cerita bahwa nilaiku waktu sekolah sebagian besar adalah pemberian Tuhan, hampir tanpa usaha) itulah sebabnya kenapa aku sampai sekarang begitu percaya dengan kekuatan do’a.

Setelah tiga tahun aku menjadi guru aku mulai sedikit mengerti bagaimna mestinya jadi seorang guru itu, semakin lama semakin membaik pemahamanku tentang profesi guru dan lama-lama aku begitu mencintai pekerjaanku. sebagai seorang guru satu hal yang aku tidak mengerti adalah perubahan kejiwaanku terhadap anak-anak didikku, aku semakin memiliki ikatan emosional yang sngat kuat terutama jika aku menjadi wali kelas. bukan hanya ketika masih mendampingi mereka tapi setelah mereka keluar dari sekolah. aku masih ingat banyak sekali kejadian pada waktu itu yang tidak pernah aku lupakan sampai sekarang, misalnya kejadian pada jam 12 malam ada orang ketuk-ketuk pintu rumahku, tentu saja aku sempat bertanya-tanya siapa malam-malam begini ketuk-ketuk pintu ?, begitu aku buka, apa yang aku saksikan ? dua orang anak sambil cengar-cengir bilang padaku ” Pak anak-anak sedang heking ke Desa Windurojo, Bapak sekarang di suruh kesana.!” tentu saja aku marah sekali waktu itu, bagaimana tidak ? Heking atas nama sekolah apa pribadi juga tidak tahu, ijin orang tua apa tidak ? bermalam lagi !, tapi apa jawab mereka ?,”Berangkat sekarang pak !” (lha dhalah ini anak !) tentu saja akhirnya aku mengalah. di kejadian yang lain aku pernah naik motor di Kajen dan kebetulan mogok di tengah jalan, tiba-tiba ada orang dari belakang menghampiriku dan bertanya ” Kenapa Pak ?” aku jawab “tidak tahu, tiba-tiba mogok ?” dia bilang “saya dorong ya Pak !, ke bengkel dekat situ kok !” “Ayo !” jawabku, sampai di bengkel orang itu mendekatiku kemudian bertanya “lupa sama saya ya Pak ?” “tidak !” jawabku (kelihatannya dia tidak yakin dengan jawabanku) dan dia menambahi pertanyaannya ” Aku murid bapak yang mbeling dulu !” (dalam batinku hanya bisa berkata ” SubkhanaLLAH..!!). sejak saat itu aku mulai mengerti dan menyadari kenapa para ahli pendidikan seperti Prof.Arif Rahman itu mengatakan jika seorang guru harus menghukum seorang anak hukuman fisik sekalipun ” Hukumlah dengan hati”. Karena anak-anak yang sekarang ini, yang terkadang kita lupa menyebutnya nakal, kurang ajar,tidak punya akhlak dan seterusnya itu ternyata jika telah datang tingkat ke’sadar’annya semua akan menjadi harta yang tidak ternilai harganya.

Sebenarnya ketika aku mengajar SMP 2 Talun, kebiasaanku dekat dengan anak-anak seperti itu akan berusaha aku hilangkan, karena keterbatasan waktuku dan tenagaku yang semakin habis di perjalanan begitu mengkhawatirkan, aku tidak mau anak-anakku’ itu menjadi terluka hatinya karena memang kondisiku yang tidak sanggup untuk di toleransi, walaupun naluri itu kadang-kadang muncul lagi tidak bisa dibendung,cerita anakku’ jazaul khoeroh dan anak kandungku tifani misalnya, Jazaul khoiroh adalah anakku’ yang paling pinter di Sekolah dalam hampir semua pelajaran, terutama pelajaranku (IPA) belum pernah mendapatkan nilai ulangan kurang dari 6, maka betapa kagetnya aku ketia try out tingkat Kabupaten kemarin mendapat nilai 3 untuk pelajaran IPA, ketika aku panggil aku hanya menanyakan ” sebenarnya ada apa ? ” dia hanya menjawab “iya Pak !” tetapi ternyata ceritanya belum selesai sampai disitu, ketika pengumuman kelulusan kemarin dia meraih nilai terbaik rata-ratanya lebih dari 8, tetapi anehnya dia tidak terlihat begitu gembira seperti teman-teman lainnya, dan akhirnya aku tanya ( pertanyaan yang sering aku sampaikan padanya ) “Bagaimana ?” jawabnya:”dia cuma menangis..!! ” aku tanya lagi “Soal biaya ya ?” dia menjawab dengan tatapan mata yang kosong “Iya Pak !” aku langsung menjawab ” kamu sekarang pulang !” karena aku tidak sanggup menatap “wajah mata anakku itu” dan hanya merintih sedih dalam hati “Ya ALLAH apa maksud-MU ?, tolonglah hambamu ini diberi pemahaman !” dan akhirnya dengan sisa tenagaku akupun pulang, bumi tempat ku berpijak rasanya bergoyang, melangkah terasa bagaikan terbang…, sedih… perih… sakit rasanya… ketika sampai di depan rumah kudapatkan anakku dengan wajah ketakutan “Abah… Aku gagal naik kelas..! maafkan aku..? akhirnya air mataku tak sanggup kutahan..!!

Hari-hari ini aku hanya sanggup memanjatkan do’a, membesarkan hati anak-anakku, ” Ya ALLAH jika semua itu terjadi karena keadilan-MU, berikanlah mereka kesabaran jiwa, berikanlah mereka keteguhan hati, berikanlah mereka kekuatan Iman, agar kelak dia menjadi manusia yang seluruh hidupnya hanya untuk mengabdi kepada-MU” tetapi jika semua itu terjadi karena lampiasan segelintir nafsu, aku mohon kepada-MU… Ya ‘Azis…aku mohon kepada-MU ya ‘ADHIM… aku mohon kepada-MU ya ‘ADIL… tunjukkanlah kepadaku keperkasaan-MU… tunjukkanlah kepadaku… keagungan-MU…Amin..! Amin..! Amin..!

Kenangan yang Abadi

Oleh: Rizqi Nurbeta

Ketika jarum jam menunjuk angka 10, kesunyian malam terasa kental menyebar. Seakan mengajak mata untuk segera terpejam, namun ada kegelisahan dalam hatiku, terasa sangat tidak nyaman dan mengganggu.

Aku teringat akan masa yang telah lalu. Masa-masa aku menjalani keseharian dan peristiwa yang selalu membayang di dalam anganku. Saat itu aku aku baru lulus SD, tepatnya tahun 2006. Aku langsung mendaftarkan diri ke SMPN 2 Talun, sebuah SMP yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Terletak di Selatan desa Sengare, berbataskan perkebunan teh Jolotigo kecamatan Talun.

Pertama kali aku masuk ke SMPN 2 Talun, rasa sedih merasuk ke dalam hatiku, karena mendapati fasilitas sekolah yang belum selengkap yang aku bayangkan. Sekolahku jauh dari kata mewah sebagaimana sekolah-sekolah favorit yang ada di kota besar. Namun justru sekolah inilah yang akan menjadi “pahlawan pendidikan” bagi anak desa sepertiku. Sekolah yang akan memberi spirit belajar bagi siswanya.

Setelah tiga hari masa orientasi siswa (mos) berlalu, aku mulai memiliki banyak teman yang baru. Mulai mengenal Bapak/Ibu Guru yang amat berjasa dalam perkembangan dunia  pendidikan  di  daerah ini. Aku  pun  segera   menjadi keluarga besar SMPN 2 Talun tercinta. Hari-hari di kelas VII terasa sangat menyenangkan, karena inilah pengalaman pertamaku menjadi anak SMP. Walaupun fasilitas belum lengkap tidaklah mengurangi semangatku. Terlintas di pikiranku keinginan sederhana. Aku ingin memperkenalkan lebih jauh SMPN 2 Talun, biar menjadi sekolah yang disegani orang.

Waktu terus berjalan. Tidak terasa aku telah naik ke kelas VIII. Setiap hari, tanpa bosan aku berangkat, menjalani rutinitas sehari-ahri di SMPN 2 Talun. Berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, naik turun bukit, melewati perkebunan teh dengan jalan berbatu, terjal bercampur tanah. Bila musim penghujan tiba, sedih rasanya karena aku harus berangkat menggunakan sandal menenteng tas dan sepatu, melewati jalan becek dan licin. Ada kalanya terpeleset dan jatuh.

Namun semua itu belum seberapa bila kuingat semangat Bapak/Ibu Guru yang secara ikhlas harus berangkat pagi dengan jarak yang jauh, tanpa terucap keluh kesah, melainkan selalu tersenyum gembira.

Kini aku sudah kelas IX. Hampir berakhir masa-masa indah di sekolah. Mungkin tidak akan ada lagi tebak-tebakan lucu di kelas, tidak akan ada lagi denting gitar dari pemainnya yang narsis saat istirahat, tidak akan ada lagi gurau tawa bersama teman-teman yang aku sayangi. Bila ingat semua, ingin rasanya kembali mengulangi.

Namun hari-hari berlalu kian cepat. Sebentar lagi aku dan semua akan berpisah. Berpisah dengan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru yang kusayangi. Teman dan orang tua yang menjadi penerang dalam gelap hidupku, penghibur dalam duka, dan senantiasa memberikan kenangan terindah untuk diabadikan dalam ingatan.

Semua kini berlalu seiring waktu. Lewat tulisan ini aku mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Semoga semua menjadi kenangan indah dan abadi.

Rizqi Nurbeta, Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMP/MTs Kab Pekalongan (2008)

Penerimaan Peserta Didik Baru

Mulai 29 Juni hingga 2 Juli nanti, SMP Negeri 2 Talun kembali menerima pendaftaran peserta didik baru. Pendaftaran bisa dilakukan langsung ke SMPN 2 Talun dan bisa juga melalui SD/MI tempat siswa itu berasal

Untuk tahun ini SMP 2 Talun menargetkan pendaftar sebanyak 3 kelas (120 siswa). Namun angka tersebut agaknya sulit tercapai, mengingat jumlah lulusan SD yang terbatas hanya pada 5 SD/MI yang ada di sekitar SMP 2 Talun.

Selain biaya sekolah yang gratis, untuk tahun pelajaran 2009/2010 nanti pihak sekolah juga merencanakan peningkatan mutu pendidikan, menggiatkan kegiatan ekstrakurikuler (Pramuka, jurnalistik, olahraga, band, dan karya ilmiah remaja). Diharapkan ke depannya, prestasi sekolah bisa lebih baik lagi.

Jadwal:

29 Juni s.d. 2 Juli 2009: Pendaftaran peserta didik baru

6 Juli 2009: Pengumuman Penerimaan

7 s.d. 8 Juli : Daftar Ulang

13 s.d. 15: Hari-hari pertama masuk sekolah (MOS)

SMP 2 Talun Lulus 89,74%

Pengumuman kelulusan baru saja dilakukan, tepatnya Sabtu, 20 Juni 2009. Untuk tahun ini tingkat kelulusan SMP 2 Talun mencapai 89,74%. Dari 78 peserta yang ikut UN, 8 diantaranya dinyatakn tidak lulus.

Meskipun demikian, tingkat kelulusan tersebut menurut Kepala SMP 2 Talun, Bapak Fuad Dulkhirom, S.Pd., masih lebih baik dibandingkan dengan SMP lain yang ada di kecamatan Talun. Selain itu, dibanding tahun sebelumnya, tingkat kelulusan ini juga lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

KAMPING

KAMPING

Cerpen Rizqi Nurbeta

Pagi hari ini,suasananya sangat cerah. Ketika matahari menampakkan kemegahannya, Graysia sudah siap berangkat kamping ke Puncak, Bogor bersama teman-temannya dengan bekal yang sudah disiapkannya semalam. Ia berangkat naik bus wisata yang dua minggu lalu sudah dipesan sekolahnya. ”Hai Rin,kamu ikut?” tanya Graysia kepada Varin saat akan berangkat. ’’Tentu saja, aku kan juga ingin melihat suasana malam disana, eh kamu tahu tidak, katanya di hutan yang berada di Puncak buat kamping kita itu, banyak anjing hutannya lho….’’ jawab Varin.

’’Maksud kamu, serigala?’’ tanya Graysia penasaran ’’Iya lah….’’

’’Ih serem ya!’’

Sudah setengah hari Graysia di dalam bus. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di tempat tujuan. ’’Belum sampai juga ya?’’ tanya Graysia, ”Sabarlah nanti juga akan sampai,’’ hibur Varin. ’’Graysia !’’ ’’Hah, ada apa?’’ ’’Sudah sampai nih, ayo turun! Cepatlah sedikit’’ ’’Iya…,cerewet banget sih.’’

’’Wah…indah ya…, eh Rin memangnya di sini benar banyak anjing hutannya?’’ tanya Graysia mulai takut. ’’Benar. Aku tidak bohong, malahan di sini juga banyak burung gagaknya loh!’’ ’’Burung gagak? Yah itukan cuma burung. Di hutan memang banyak burungnya kan.?’’ ’’Tapi ini beda. Aku pernah dengar, kata orang dulu nih, kalau ada yang mendengar suara burung gagak,itu tandanya salah satu orang yang mendengarnya ataupun orang terdekat kita akan ada yang meninggal,’’ jelas Varin. ’’Alah, itu tahayul!’’

Malam hari telah tiba, rembulan telah menampakkan diri ditemani bintang-bintang yang anggun. Graysia dan teman-temannya segera membuat api unggun. “Wah, bulan purnama di sini indah ya Rin,’’ kata Graysia sambil menikmati indahnya bulan purnama di bawah rindangnya pohon mahoni. ’’Iya Grays, tapi yang aku takutkan jika ada anjing hutan yang melolong tengah malam nanti.’’ Varin mulai khawatir. ’’Memangnya kenapa?’’ ’’Ih… Graysia, kalau ada anjing hutan yang melolong di bulan purnama, maka salah satu orang yang kita kenal atau bahkan, aakh…!!!’’ Teriak Varin.

’’Varin, kenapa kamu? Lihat, teman-teman pada ngelihatin kamu, tahu!’’ Semuanya mulai sibuk kembali dengan aktivitas masing-masing, ’’Bahkan apa, Rin?’’ ’’Ih…ngeri pokoknya.’’ ’’Iya tapi kamu belum selesai ngomong kan? Ayolah, bahkan apa?’’ Dengan terpaksa Varin menjawab dengan nada yang lambat. ’’Bahkan kita sendiri akan…’’ ’’Ya Rin, aku juga tahu maksudmu. Tapi lebih baik lagi kalau kamu istirahat.’’ ’’Ya baiklah, aku juga nggak mau mendengar lolongan anjing hutan dan burung gagak.’’

Sebenarnya Graysia sudah bosan melihat tingkah temannya yang baru dia kenal belum genap dua tahun itu. ’’Apa sih, yang membuat Varin jadi biasa ngarang gitu ya…?’’ gumam Graysia. Tapi itu sudah dilupakan Graysia segera, karena dia tidak mau terlalu memikirkan persoalan yang sepele, apalagi terlalu menghayal. Graysia dan teman-temannya melanjutkan malam api unggun yang menyenangkan tanpa Varin.

Meskipun acara api unggun sudah selesai, Graysia masih sibuk dengan telepon genggamnya hingga tengah malam di depan tenda. Sesekali dia bersorak-sorak atas kemenangannya bermain game. ”Yes…yes…yes…menang juga! Siapa itu…!!!” Dengan terkejut dia menengok ke arah belakang, tampaknya dia mulai gelisah dan takut. ”Grays, sepertinya tidur tanpa teman-teman tidak enak banget deh,” kata Varin mengejutkan Graysia. ”Varin, Varin, hampir saja jantungku lari,” gerutu Graysia. ”Iya deh maaf, eh main apa kamu?” ”Biasa nih, 5-0 hebat kan.” ” Yaaa…lumayan,” puji Varin.

Kali ini, dua pasang mata tertuju pada arah bulan yang membentuk bulatan penuh. ” Suara apa itu Rin ?” tanya Graysia. ” Itu anjing hutan Grays, aku takut nih, kita tidur aja deh! Yuk… Grays, ayo tidur!” “ Iya…iya, aku juga tahu kalau kamu sebenarnya emang penakut kan.” Tampak tersinggung hati Varin, mungkin karena perkataan Graysia sedikit memojokkan dirinya. ” Ya…, sudah. Ayo tidur!”

Dengan segera Graysia mengikuti temannya ke tenda. Sampai akhirnya, direbahkanlah tubuh yang dari sore hari belum menyentuh air sedikit pun. Graysia sebenarnya sudah muak dan bosan mendengar omongan tak berguna dari Varin.

“Rin, Rin…. Varin, sudah tidur?”

Tak ada jawaban dari temannya bukan membuatnya makin kesal, tetapi dia malah ingin mencari tahu dari mana temanya itu berguru tahayul-tahayul yang dia anggap tak ada.

Pagi sudah datang, sinar matahari sudah mulai masuk di balik celah-celah dedaunan. ”Ahh…dasar tukang tidur, hei bangun Grays.” “Apaan sih!” kesal Graysia “Yah tidur lagi.” “Hei, sembarangan, memangnya kamu tahu apa yang kulakukan semalam?” “Bukankah semalam kau tidur bersamaku?” “Itu kan kamu, aku jalan-jalan sama teman-teman yang lain.” “Jadi semalam aku tidur sendirian?” “Ya..iyalah, sama siapa lagi,sama hantu?”

Semua terdiam,tapi suasana berubah saat mereka berdua mendengar suara burung gagak yang sedang bertengger dipohon damar, dekat tenda mereka. “Graysia, kamu dengar suara itu?” “Tentu saja, memangnya kenapa?” “Grays aku sudah bilang kan sama kamu, kalau ada yang mendengar suara burung gagak itu artinya ada yang akan meninggal hari ini, apa kamu tidak takut?” “Itu kan cuma tahayul Tadi malam aku mendengar lolongan anjing, tapi tidak ada kejadian apapun.”

“Sudahlah, hentikan omong kosongmu itu.” “Tapi aku…” “Tapi apa? Aku sudah muak mendengar cerita bohongmu itu, lebih baik kemasi barangmu, sebentar lagi berakhir sudah kamping yang membosankan ini, karena ada si pengganggu dengan cerita-cerita yang tak berguna itu.” “Baiklah…” “Sudah pergi sana, pergilah sejauh mungkin!”

Semua sudah berkemas, sebentar lagi kamping yang menyebalkan bagi Graysia akan berakhir. ”Akhirnya, aku akan pulang. Sekarang aku sudah bebas dari si cerewet Varin.” Graysia sudah melakukan hal yang salah terhadap temannya, dan anehnya Graysia tetap optimis. ”Biarin aja.”

Bagi Graysia, kamping yang menyebalkan ini belum selesai kalau bus yang mereka naiki belum keluar dari pintu gerbang Puncak. Graysia makin kesal ketika ban bus kempes. Perlu waktu lama untuk bisa jalan lagi. ”Yah kempes, turun deh.! Tapi dimana si cerewet Varin ya?” “Ayo turun-turun!” kata pemandu wisata. Bukannya diam, pemandu itu malah bertanya pada Graysia.” Graysia! Dimana Varin?” “Maaf Pak, saya tidak tahu. Bukannya tadi naik bus?” “Ah, tadi kan sama kamu!” “Tidak Pak.”

Wajah pemandu itu tampak cemas, terlihat dari cahaya matanya yang redup.

“Ok…semuanya apa ada yang melihat Varin?”

Semua terdiam tanpa suara sedikitpun, hanya terlihat beberapa anak yang berbisik-bisik. Setelah itu, ”Hei lihat….!” Entah dari mana asal suara itu, tetapi semua mata tertuju ke arah Barat. “Teman-teman tunggu aku…!” teriak Varin dengan terengah-engah “Varin”, dengan serentak semua menyebutkan nama Varin. ”Hah…hah…hah Pak saya kok ditinggal, padahal kan saya belum naik busnya.” “Lho, waktu kamu berangkat duduknya dengan siapa?” “Graysia Pak, seharusnya,dia bilang kalau saya belum naik.

Semua mata tertuju ke arah Graysia, ”apa? Aku kan tidak salah.” Graysia membela diri. “Graysia, sepulang dari sini temui saya.” “Tapi Pak…” “Tapi apa, kamu seharusnya memberi tahu saya, kalau Varin tidak ada, jadi kamu yang bertanggung jawab, bahkan waktu berangkat duduknya di sebelah kamu.” “ Jadi saya dapat hukuman?” “ Iya “

Tampak muka penyesalan dari Graysia, mungkin kamping kali ini adalah kamping yang paling menyebalkan baginya. ”Gara-gara Varin,” gerutunya.

Pekalongan, Mei 2008

Rizqi Nurbeta, Kelas IX A